Monday, June 26, 2006

CHARACTER BUILDING

Beberapa waktu terakhir ini, TUHAN banyak ajar aku untuk berproses dengan diriku sendiri. Semenjak aku tau bahwa level penyembahanku dinaikkan lagi ama TUHAN, semenjak itu pula aku semakin diajar untuk terus menjaga integritas kekristenanku. One of my best friends reminded me that the higher you climb, the stronger the windblow is. Semakin engkau dibawa masuk lebih dalam ke sungai TUHAN, semakin besar tekanan yang akan engkau alami. Tapi bila engkau meresponinya dengan baik, tekanan itu akan membuat dirimu semakin ‘berkurang’, tapi justru engkau akan semakin ‘melebar’. Dalam arti kata bahwa semakin egomu akan ditekan, tapi kapasitas kekristenanmu akan semakin diperluas.

Tapi bagaimana kita bisa menanggapi proses TUHAN dalam hidup kita itu ??? Ada beberapa hal yang perlu kita ingat dalam pembentukan karakter kekristenan kita:

1. Proverbs 27:17 – As iron sharpens iron, so a man sharpens the countenance of his friend.
YESUS dengan sangat gamblang mengajarkan bahwa pembentukan karakter kita sangat dipengaruhi oleh orang-2 yang hidup bersama kita. Some Christians might think that they don’t need anyone else to work with them, dengan kata lain cukuplah mereka menjadi seorang single fighter. Dan alasannya pun cukup klise: “Daripada nanti aku dikecewakan oleh mereka, lebih baik aku kerjakan semua sendiri.” Tapi pemahaman itu SALAH BESAR !!! TUHAN ngga pernah mengajarkan kita untuk hidup sendirian dengan alasan takut dikecewakan. Siapakah orang yang telah mengkhianati YESUS ??? Ya, anak sekolah minggu pun tau bahwa orang itu namanya Yudas. Tapi siapa sebenarnya Yudas itu ??? Dia ngga lain dan ngga bukan adalah murid YESUS sendiri, yang notabene sudah 3 tahun lebih hidup bersama-2 dengan YESUS. Yang lebih menyakitkan lagi, ternyata kebenaran menuliskan bahwa yang mengkhianati YESUS bukan hanya Yudas, tapi ke-11 murid yang lain pun ikut ambil bagian dalam rencana ‘pengkhianatan’ itu, implicitly. Apa yang dilakukan Petrus saat YESUS disiksa ??? Dia menyangkali GURUnya, bahkan sampai berani bersumpah. Lalu bagaimana dengan murid-2 yang lain ??? Mereka semuanya mungkin ada di tempat kejadian itu, tapi apakah ada dari mereka yang secara terang-2an menyatakan bahwa mereka murid YESUS ??? NOBODY !!!

YESUS mengajarkan bahwa orang-2 di sekitar kita itu ada untuk membantu kita berproses menjadi pribadi yang memiliki karakter semakin baik. Kita akan ‘diasah’ untuk menjadi anak panah yang semakin runcing, yang sanggup untuk menembus perisai sekokoh apa pun. Pada saat peristiwa penyaliban YESUS bisa saja memaku diriNYA sendiri, seandainya tidak ada orang yang mau melakukannya. DIA bisa dengan leluasa memaku kakiNYA sendiri, menancapkan mahkota berduri di atas kepalaNYA sendiri, bahkan sampai pada waktu DIA harus menancapkan paku ke salah satu tanganNYA, DIA pun mampu. Tapi pada saat hanya tinggal satu tangan yang belum dipaku, siapa yang akan memakunya ??? Di sinilah YESUS mengajarkan fungsi sesama dalam proses penyaliban diri kita. Bukan suatu hal yang mudah, memang. Tapi bila kita bisa lewati proses ini dengan baik, sekali lagi aku katakan, kita akan semakin menjadi sebilah anak panah yang tajam, ready to penetrate every barrier in our lives.

2. Psalms 25:9 – The humble HE guides in justice, and the humble HE teaches HIS way
A few weeks ago, I learned about ‘exercising our spirit’, and salah satu caranya adalah ‘instant repentance’. Saat TUHAN tegur engkau, gimana respon hatimu ??? Apakah engkau akan menjadi seperti Daud, yang langsung tersungkur saat menerima teguran TUHAN, ataukah engkau akan menjadi seperti Saul, yang berargumen untuk membela dirinya ??? Hasil dari keduanya pun jelas. Daud menjadi orang yang diberkati, bahkan memperoleh kepercayaan dari TUHAN bahwa keturunannya akan menjadi bagian dalam rencana ALLAH untuk menyelamatkan manusia. Sedangkan Saul menjadi orang yang ditolak oleh ALLAH. Kenapa ??? Karena Daud memiliki hati untuk suatu pertobatan seketika. Begitu TUHAN tegur Daud melalui Natan, seketika itu pula Daud langsung menangis dan bertobat secara total.

Daud adalah satu-2nya orang di dalam Alkitab yang disebutkan sebagai ‘a man after GOD’s own heart’. Dan rupanya julukan yang diberikan ALLAH itu bukan asal-2an. Kenapa ??? Daud memiliki kerendahan hati dalam hidupnya. Kalo mau disebutin, terlalu banyak karakter Daud yang menjadi indikator untuk membuktikan bahwa Daud adalah orang yang rendah hati. Dari awal, sebagai anak yang ‘tertolak’ dalam keluarganya, Daud masih punya kasih untuk menyayangi kakak-2nya. Sebagai buktinya, Daud dengan rela hati mau mengantarkan makanan bagi mereka saat mereka berperang melawan Filistin. Kita semua tau bahwa apa yang terjadi kemudian adalah peristiwa Daud membunuh Goliat. Ini tidak akan pernah terjadi kalau Daud adalah orang yang tinggi hati, knowing that he would become a great king someday. Selanjutnya, semakin Daud beranjak dewasa, Daud semakin menjadi orang yang mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu. Dia menjadi raja, sesuai janji TUHAN ke atasnya, tetapi dia tetap menjadi seorang raja yang rendah hati. Dia tetap menghargai keluarga Saul dan menganggapnya sebagai anggota keluarganya sendiri, terbukti dari peristiwa Mephibhoseth (II Samuel 9:1-13). Daud tetap menyadari bahwa kedudukan yang dia peroleh semuanya semata-2 karena kebaikan TUHAN.

Ya, kita bisa aja terbuka untuk sebuah teguran yang datang dari pemimpin di atas kita. Tapi gimana kalo teguran itu datang dari orang-2 yang ‘berkedudukan’ di bawah kita ??? Apa kita masih bisa terbuka untuk teguran itu ??? Dan lebih lagi, apakah kita mau benar-2 belajar untuk berubah sesuai dengan teguran itu ??? Ya, kita tau bahwa ngga semua masukan tentang diri kita itu pasti benar. Manusia tetaplah manusia, masih punya ketidaksempurnaan dalam hidupnya. Tapi apa respon hati kita saat kita menghadapi teguran itu ??? Apakah kita langsung menentang dan ‘membangun tembok’ untuk melindungi diri kita ??? Ataukah kita mau berdiam diri dan introspeksi ??? Daud bisa saja dia merasa gengsi dan direndahkan martabatnya, kemudian menghukum mati Natan karena telah mempermalukan dia di depan pegawai-2 istananya. Tapi Daud memilih untuk bertobat, sehingga kasih karunia ALLAH pun semakin dicurahkan kepadanya. Apakah kita mau memiliki roh yang luar biasa ??? Belajarlah untuk memiliki ‘instant repentance’ !!!

3. Hebrews 5:8 – Though HE was a SON, yet HE learned obedience by the things which HE suffered
Another friend of mine once gave a statement, which becomes a rhema for me all my life. Dia berkata bahwa saat kita sedang menjalani suatu proses dari TUHAN, jangan sekali-2 minta untuk cepat-2 keluar dari proses itu. Ibaratnya seperti buah mangga yang sedang menuju proses kematangan, ada orang yang mungkin memilih untuk memetik mangga ini supaya tidak matang di pohon, tetapi matang di tempat penyimpanan alias karbitan, dengan alasan supaya menghindari resiko-2 yang ada (dimakan kelelawar, busuk karena ulat, jamuran, dsb.). Tapi kita harus ingat bahwa buah mangga yang masak pohon itu rasanya jauh lebih enak dibandingkan buah mangga yang masak karbitan.

In one of my sermons, I said that a life of obedience is more enjoyable than a life of personal desires. Hari-2 ini aku sedang belajar untuk mulai berani mempercayakan seluruh hidupku di dalam tangan TUHAN, sepenuhnya. What I mean is, I’m struggling to fight my fearful mind, being afraid of tomorrow. It’s not an easy task to trust GOD 100% in what you do, especially when it is concerned with your future. But I also learned, that HIS plan never fails on my life. What I must do is to walk straight in HIS path. The path may be narrow and small, but as long as I walk carefully according to HIS guidance, I’m sure that I will make it. Not by my power, not by my might, but by the SPIRIT of GOD.

Ketaatan juga bisa berbicara tentang keberanian kita untuk menyerahkan ‘Ishak-2’ dalam hidup kita. Ishak berbicara mengenai harta kepunyaan. It could be anyone or anything. Ini bisa berbicara tentang mimpi-2 kita, cita-2 kita, keluarga kita, harta benda kita, pasangan hidup kita, etc, etc, etc. Anything !!! Tapi belajarlah dari Abraham, yang ngga ragu dalam mempercayai TUHAN. Ketahuilah, bahwa TUHAN meminta Ishak-2 dalam kehidupan kita dengan tujuan yang mulia. Saat kita menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan TUHAN, dan kita berjalan dengan kesetiaan, yang akan kita terima adalah segala sesuatu yang terbaik yang sudah disiapkan TUHAN bagi kehidupan kita.

4. Hebrews 13:17a – Obey those who rule over you, and be submissive, for they watch out for your souls, as those who must give account.
Banyak orang-2 Kristen di dunia ini tidak menyadari tentang pentingnya penundukan diri terhadap pemimpin-2 yang berada di atas kita. Beberapa mungkin berkata, “Pemimpinku hanya satu, yaitu TUHAN YESUS KRISTUS!” Ada yang juga bahkan berkata, “Untuk apa aku tunduk terhadap pemimpinku, kalau pemimpinku pun tidak menjadi contoh?” Tapi coba kita renungkan lagi, coba kita berpikir kembali… Apa Firman TUHAN berkata “Taatilah pemimpin-2mu dan tunduklah kepada mereka, KALAU MEREKA BAIK TERHADAPMU” ??? NO !!! Hanya ada satu kondisi di mana kita tidak boleh menuruti pemimpin kita, yaitu bila apa yang diperintahkannya berlawanan dengan kebenaran. Contohnya seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak pada saat diperintahkan untuk menyembah patung Nebukadnezar; karena mereka menyadari bahwa Firman TUHAN jelas memerintahkan untuk tidak menyembah kepada allah-2 lain.

Tapi terlebih dari itu, YESUS ngga pernah mengajarkan untuk kita tidak tunduk pada pemimpin-2 kita. YESUS bahkan mengajarkan untuk kita pun mentaati apa yang diajarkan para orang-2 Farisi, yang notabene adalah ‘musuh-2’ YESUS, walaupun toh DIA tetap mengajarkan untuk tidak mencontoh perbuatan para orang Farisi yang menunjukkan kemunafikan mereka tersebut. Dalam konteks ini, YESUS secara gamblang menunjukkan bahwa DIA pun menghormati orang-2 Farisi sebagai pemimpin-2 dalam adat istiadatNYA, dan DIA pun sadar bahwa Firman TUHAN tetaplah Firman TUHAN, ngga perduli mo dengan cara apa Firman itu disampaikan. Kebenaran tetaplah kebenaran, dan saat kebenaran itu disampaikan, kita sebagai anak-2 terang haruslah mentaati kebenaran itu.

Kita liat lagi kehidupan Daud. Daud adalah orang yang semenjak usia remajanya sudah ditentukan untuk menjadi raja. Walaupun semenjak usia muda Daud sudah diurapi sebagai seorang raja menggantikan Saul yang sudah ditolak oleh ALLAH, tapi Daud tidak semena-2 mempergunakan urapan tersebut untuk melakukan kudeta terhadap Saul. Bahkan Daud pun pernah dengan lantang menyatakan: “Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganmu dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN” (I Samuel 24:11). Pernyataan Daud yang seperti inilah yang benar-2 menunjukkan betapa Daud adalah orang yang sangat menghargai otoritas pemimpin di atasnya sebagai figur yang harus dihormati, dan terlebih lagi, sebagai figur yang diurapi ALLAH untuk memimpin dia, seburuk apapun reputasi Saul. Bahkan, Daud pun seringkali memanggil Saul dengan sebutan ‘ayah’. Ini sangat menunjukkan betapa Daud begitu menyayangi Saul sebagai seorang bapa dalam hidupnya, walaupun toh bapanya itu selalu berusaha untuk membunuhnya.

Apa yang bisa membuat seorang leader dapat bertumbuh ??? Ya, memang hubungan intim dengan TUHAN akan sangat membuat seorang leader bertumbuh dengan baik. Tapi itu bukan satu-2nya pemicu pertumbuhan seorang leader. Seringkali kita melupakan satu hal yang diperlukan oleh seorang leader untuk dapat bertumbuh, yaitu sikap supportive dari orang-2 yang dipimpinnya. Mungkin kita seringkali mendengar ‘berita-2 miring’ tentang leader-2 kita, yang notabene belum tentu sepenuhnya benar. Tapi pada saat kita mendengar berita itu, apa yang akan kita lakukan ??? Apakah kita akan langsung terima berita itu mentah-2, dan kemudian dengan bebasnya menghakimi dia ??? Kalo itu yang kita lakukan, remember that “with what judgment you judge, you will be judged; and with the measure you use, it will be measured back to you” (Matthew 7:2). Sekali lagi, semua kembali ke respon hati kita terhadap suara TUHAN. Kalo kita tau DENGAN PASTI (bukan emosi semata) bahwa TUHAN suruh kita tegur dia, maka tegurlah dengan kasih dan tidak mengurangi rasa hormat. Tapi kalo TUHAN ngga suruh kita tegur, ya diamlah! Doakan dia. Biarpun berita yang kita dengar itu merupakan fakta, tapi bukan itu yang diinginkan TUHAN. Apa yang diinginkan TUHAN dari kita adalah bagaimana kita meresponi suatu permasalahan dengan cara TUHAN, bukan cara manusia. Always remember that, how we treat our leaders today will reflect how we will be treated by the ones we lead in the future. If we respect our leaders today, then we will also gain respect by the ones we lead someday.

So guys, saddle up your horses, raise up the sails, and get ready to venture the glorious unknown of GOD’s mistery. Don’t be afraid of what lies ahead, since HE has promised us that HE will make all things beautiful in its time. More than that, HE has also promised that HE will never leave us, nor forsake us. So, why should we linger any further ??? Let GOD deal with your life, and let HIM make the best out of our vessels.

Jbu all...

(written for personal network)

No comments: