Monday, June 26, 2006

LEADING IS LOVING

Salah satu kisah di dalam Alkitab yang seringkali dipakai dalam kepemimpinan Kristen adalah kisah tentang para pahlawan Daud, terutama tentang triwira Daud (2 Samuel 23:8-17). Kisah tersebut merupakan kisah yang sangat menggugah semangat seorang pemimpin dalam hal melakukan yang terbaik. Dan kita pun pasti mengerti bagaimana kisah kepahlawanan triwira tersebut, yang dengan gagah berani menerobos barisan Filistin hanya demi memenuhi permintaan Daud yang ingin minum air dari perigi di Bethlehem.

Melihat kegigihan mereka, kita mungkin akan lupa akan fakta bahwa sebenarnya mereka ini adalah orang-orang dengan latar belakang kehidupan yang buruk. Alkitab menulis di dalam 1 Samuel 22:2, mereka adalah orang-orang yang dikejar-kejar oleh penagih hutang, orang-orang yang tertolak, dan berbagai macam latar belakang mereka. Dalam konteks dunia masa kini, orang-orang yang demikian adalah tipe orang yang sangat susah untuk menjadi orang yang loyal terhadap pemimpin. Tetapi mengapa justru prajurit-prajurit terhebat Daud ‘lahir’ dari orang-orang yang demikian? Jawabannya hanya satu, yaitu karena Daud menjadi pemimpin yang melayani. Di mana tidak ada satupun orang yang mau menerima mereka, Daud menerima mereka apa adanya. Daud mengalami secara pribadi bagaimana sakitnya ditolak oleh keluarga maupun pemimpinnya, sehingga ia memiliki mental untuk tidak ingin melakukan hal yang sama kepada orang-orang yang dipimpinnya.

Dalam sejarah Jepang, ada seorang jenderal yang bernama Minamoto no Yoshitsune yang hidup di sekitar abad ke-12. Yoshitsune terkenal karena kecerdasannya dalam strategi perang, dan dia adalah seorang jenderal yang handal dalam berperang. Tetapi Yoshitsune juga terkenal karena dia memiliki seorang pengikut yang sangat setia, yang juga merupakan pengikutnya yang paling hebat, yang bernama Saito Musashibo Benkei. Benkei memiliki masa kecil yang buruk, di mana dia lahir sebagai anak yang tertolak, karena ibunya adalah korban perkosaan. Selain itu, orang-orang di sekitarnya menyebutnya sebagai Oniwaka, atau ‘anak iblis’, karena kehadirannya begitu tidak diinginkan oleh orang tuanya. Tetapi pada saat peperangan terakhirnya bersama Jenderal Yoshitsune, dia gugur sebagai tameng bagi Yoshitsune dengan tubuh yang penuh anak panah. Benkei gugur dengan posisi tegak berdiri, semata-mata hanya demi melindungi Yoshitsune. Mengapa orang dengan masa lalu yang demikian bisa menjadi orang yang begitu setia? Sekali lagi, jawabannya adalah karena justru di saat tidak ada orang yang mau dekat dengan Benkei, Yoshitsune memilih untuk mendekati Benkei dan menjadi sahabatnya.

Leaders, mari kita ingat panggilan kita sebagai pemimpin. Seringkali kita masih merasionalisasi kepemimpinan kita dan memilih-milih orang yang kita pimpin. Tapi mari kita sadari bahwa panggilan seorang pemimpin tidak hanya terbatas hanya karakter atau latar belakang tertentu dari orang yang kita pimpin. Sebagai pemimpin kita harus siap untuk menghadapi berbagai macam karakter dan latar belakang. Dari ke-12 rasul YESUS, tidak ada satupun dari mereka yang memiliki karakter yang sama ataupun latar belakang yang persis sama. Bahkan, Paulus, yang disebut-sebut sebagai rasul ke-12 yang sesungguhnya sebagai pengganti Yudas, adalah orang yang memiliki latar belakang penganiaya murid KRISTUS sendiri. Tetapi YESUS menerima mereka apa adanya. Dan seperti YESUS, kita pun harus siap untuk menerima orang lain apa adanya. Tetapi jangan kita lupa bahwa walaupun YESUS menerima kita apa adanya, DIA tidak ingin kita menjadi apa adanya. DIA berusaha untuk memaksimalkan karunia setiap murid-NYA serta meninggalkan masa lalu mereka. Demikian pula kita sebagai pemimpin harus belajar untuk menuntun setiap orang yang kita pimpin untuk meninggalkan masa lalu mereka yang buruk, dan melangkah untuk masuk lebih dalam dalam rencana TUHAN yang indah.

YESUS TUHAN!

No comments: