Thursday, April 03, 2008

LORD I give YOU my heart... Determined...

Sepanjang 1-2 minggu terakhir ini, somehow TUHAN bawa aku untuk memahami the what-so-called 'determination'. I have one framed poster above my shoe-rack yang bunyinya gini: "Determination - There is no trying; There is only doing or not doing". I received it as a birthday present from my spouse-to-be on my 25th b'day. It has been 2 years since then, dan aku baru bener-2 paham gambaran dari philosophy itu kurang lebih 1 bulan ini.

Entah gimana caranya, tapi banyak orang di sekelilingku pada ngomong tentang hal ini, n sepertinya TUHAN lagi ngajar aku untuk berani melangkah, apapun konsekuensi yang harus aku hadapi. Perubahan tidak akan menjadi perubahan bila tidak ada perubahan, n ada satu hal yang tidak akan pernah berubah dalam hidup ini, yaitu perubahan itu sendiri. Gimana kita akan ngerti kebaikan TUHAN kalo kita sendiri ternyata ngga pernah berani memilih untuk melangkah?

Tapi masalahnya, seringkali kita berpikir, "Ok dah, aku coba dulu." Dan kemudian kita akan melangkah dengan ngga sepenuh hati. Kita jadi melangkah dengan ragu, cemas, de es te... Tapi inget kata-2 TUHAN ke Joshua pada waktu awal dia mulai memimpin bangsa Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Janganlah kecil dan tawar hati, sebab TUHAN, ALLAHmu menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (Yos 1:9). TUHAN ingin kita melangkah, tapi DIA juga ngga ingin kita melangkah setengah hati, karena keraguan itu hanya akan menjadi penghambat iman kita untuk bertumbuh. TUHAN ingin kita melangkah dengan sepenuh hati, with a determination in our hearts! TUHAN ingin kita melangkah dengan kepercayaan bahwa DIA pasti menyertai kita ke manapun kita pergi, provided that kita ngga menyimpang dari kebenaranNYA.

Look at the warriors of faith in the whole Bible. Those who are successfully blessed by GOD, are those who have a determination in their hearts. Mereka melangkah dengan tanpa banyak tanya, dan Nike wouldn't need to be that aggressive in promoting the 'Just Do It' motto back then in the Bible years.

Think about Abraham, kenapa dia bisa diberi nama 'bapa dari segala orang beriman'? It's definitely a name that is uncomparable to anyone. Tapi waktu kita ingat baik-2, ternyata Abraham itu orang yang ngga ragu dalam mengambil keputusan. Starting from taking the decision to move from Haran to Canaan, the decision to separate from Lot and to let Lot chose the best part first, then he went to the decision of negotiating with GOD, until the decision to sacrifice Isaac only due to his love of GOD, dan banyak lagi keputusan-2 yang Abraham ambil. Ternyata tidak pernah sekalipun dari semua keputusan ini yang diambil Abraham dengan setengah hati. His heart was fully determined! He owned the determination to choose GOD above all else.

Let's look again about the story of Ruth. Kenapa Ruth bisa menjadi orang yang dipilih TUHAN untuk menjadi 'nenek moyang' YESUS di dunia? Because since the very beginning of her walk with Naomi, her heart was so determined (Ruth 1:18). Ngga ada sedikitpun keraguan dari diri Ruth untuk mendampingi Naomi, padahal suaminya sudah meninggal, Naomi pun berasal dari bangsa Israel yang justru sebenarnya saat itu sedang dalam bencana kelaparan. Ruth tidak pernah melihat statusnya sebagai bangsa Moab yang dijadikan tempat pengungsian bagi orang Israel saat itu sebagai status yang harus mendapatkan hormat. Tapi dia memilih untuk berjalan mengikuti mertuanya karena dia melihat bahwa ALLAH dari mertuanya adalah ALLAH yang benar-2 perkasa, terlepas dari apapun fakta yang dihadapinya. Dan justru keteguhan hati itulah yang dapat menyentuh hati TUHAN untuk bangkit dan bertindak. Sampai akhirnya kita tahu bahwa Ruth diperistri oleh Boas, yang di kemudian hari, mereka ini menjadi kakek dan nenek buyut Daud. Isn't it amazing?

So guys, apapun yang lagi kalian alami, apapun yang lagi kalian hadapi, jangan pernah ragu dalam melangkah. Taking a fully determined step is all what it takes to realize your faith into an experience with GOD!

Jbu always...

Monday, June 26, 2006

THE PENGUIN LEADERSHIP

Lucu dan unik. Mungkin itu yang seringkali menjadi impresi pertama kita saat melihat penguin-penguin kecil di Phillip Island, Australia. Tempat ini terletak kurang lebih 100 km sebelah selatan kota Melbourne, dan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor sekitar 2 jam lamanya. Siapapun yang melihat penguin-penguin ini akan merasa gemas dengan perilakunya. Tidak heran, karena jenis Penguin Kecil, atau Little Penguin ini adalah species terkecil dari semua jenis penguin yang ada di dunia, dan satu-satunya species yang dapat ditemukan di Asia Pasifik.

Tetapi ada beberapa perilaku yang unik dari penguin-penguin kecil ini. Dan mungkin justru kita dapat belajar banyak dari perilaku mereka, khususnya dalam hal kepemimpinan. Seringkali, saat kita berbicara tentang kepemimpinan, kita mengacu pada perilaku burung rajawali, tetapi sebenarnya ada banyak perilaku binatang di dalam Alkitab yang Tuhan pakai untuk mengajar kita dalam banyak hal, contohnya perilaku semut di dalam Amsal 30:24. Ternyata di dalam kehidupan nyata, ada banyak sekali nilai-2 yang dapat kita pelajari dari berbagai jenis ciptaan Tuhan. Demikian pula dengan penguin-penguin ini, ada suatu nilai yang berharga yang dapat kita lihat dari perilaku mereka. Mari kita coba lihat apa saja yang dapat kita pelajari dari perilaku penguin-penguin kecil ini, khususnya dalam hal kepemimpinan.

Know where you are heading to
Penguin adalah binatang koloni, yang artinya mereka hidup secara berkelompok. Dan dari sekian ratus penguin yang ada, mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang berisikan kurang lebih sekitar 20 penguin. Setiap pagi, para penguin dewasa beranjak ke laut untuk berburu makanannya, dan saat hari menjelang malam mereka kembali ke pantai, untuk masuk kembali ke gua yang menjadi sarang mereka dan merawat anak-2 mereka. Uniknya, saat mereka kembali ke pantai, seakan-akan ada anchor points atau ‘titik pendaratan’ untuk masing-masing koloni kecil. Ada sekitar 4 area yang menjadi titik pendaratan mereka, dan tidak ada satupun koloni yang meleset dari 4 titik tersebut. Sebagai seorang pemimpin, kita bisa belajar bahwa kita tidak akan bisa melangkah dengan baik bila kita tidak tahu ke mana kita akan melangkah. Jangankan untuk memimpin orang lain, kita pun tidak akan bisa memimpin diri kita sendiri bila kita tidak memiliki tujuan dalam perjalanan hidup kita. Langkah paling awal, dan yang justru akan menjadi awal penentu keberhasilan dari seorang pemimpin adalah mengerti ke mana kita akan berjalan.

Joan of Arc, seorang pejuang wanita Perancis, ia mengerti bahwa Perancis tidaklah seharusnya berada di bawah jajahan Inggris, dan ia menjadi seorang pemimpin yang disegani, walaupun ia adalah seorang wanita muda. Meskipun ia gugur pada usia yang sangat muda, tetapi apa yang dilakukannya telah menjadi langkah awal perjuangan Perancis, dan namanya tetap menjadi bagian dalam sejarah Perancis.

Being a leader means patience
Di setiap koloni kecil yang ada, para penguin tersebut selalu memiliki pemimpin rombongan. Dan sebelum semua anggota koloni tersebut terkumpul semua, pemimpin rombongan tidak akan beranjak. Sampai pada sekian waktu, ketika anggota rombongan yang tersisa tidak kembali, barulah pemimpin rombongan mengajak rombongannya berangkat, karena dapat dipastikan bahwa penguin anggotanya hilang di tengah lautan. Dari hal ini kita belajar bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, kita harus memiliki kesabaran ekstra. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang kita pimpin belum tentu mereka bisa bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan, tetapi itu pun bukan berarti bahwa mereka bekerja lebih buruk. Mungkin saja mereka memiliki pandangan yang berbeda dengan kita, dan itu adalah hal yang sangat wajar dalam sebuah tim. Mungkin mereka tidak bekerja secepat yang kita inginkan, tetapi bukan berarti kinerja mereka seburuk yang kita kira. Bahkan seringkali orang yang bisa bekerja dengan cepat pun sangat rawan dengan adanya kesalahan. Sebagai seorang pemimpin kita harus memiliki kesabaran untuk kita bisa memahami pola pikir orang-orang yang kita pimpin, dan mengarahkan mereka untuk bekerja dengan efisien. Bekerja dengan efisien tidak harus berarti bekerja dengan cepat semata-mata, tetapi itu merupakan kombinasi yang seimbang dari kecermatan, kecepatan dan kerja keras. Pahami karakter orang-orang yang kita pimpin, agar kita bisa memimpin mereka dengan strategi yang tepat.
Ken Blanchard, pencetus teori Situational Leadership, dalam bukunya The Servant Leader menuturkan bahwa tidak ada figur lain yang lebih baik dalam memberikan contoh bahwa strategi kepemimpinan harus berbeda dan disesuaikan dengan karakteristik orang yang dipimpin kecuali Yesus. Yesus menggunakan strategi yang berbeda dalam memimpin murid-murid yang memiliki karakter yang berbeda. Bentuk kepemimpinan Yesus kepada murid-murid yang lebih dewasa dalam kerohaniannya akan berbeda dengan kepada mereka yang masih baru mengenal Dia.

Submission means not moving selfishly
Pada saat berada di pantai dan menunggu semua anggota koloni berkumpul, tidak ada satu pun penguin anggota yang beranjak sebelum pemimpin memulai bergerak. Begitu pemimpin koloni bergerak, barulah semua anggota yang lain ikut bergerak. Di sini kita belajar bahwa seorang pemimpin yang baik mengerti bahwa ia pun harus tunduk di bawah kepemimpinan yang berada di atasnya. Perlu diingat bahwa dalam hal ini tunduk di bawah otoritas sebuah kepemimpinan bukan berarti tidak memiliki inisiatif. Tetapi tunduk di bawah otoritas kepemimpinan berarti kita tidak bergerak hanya sesuai dengan kemauan kita semata. Bila kita memiliki ide-ide tertentu, kita harus mengkomunikasikannya dengan pemimpin kita, dan jangan bergerak sendiri sebelum pemimpin kita memutuskan untuk kita bergerak. Contoh yang baik mungkin dapat kita lihat dalam ketentaraan. Pada saat seorang serdadu mengabaikan perintah komandannya dan bertindak tidak sesuai dengan perintah komandannya, hal itu akan dianggap sebagai sebuah pelanggaran dalam kemiliteran.

Mari kita ingat Musa pada saat perjalanan Israel di padang gurun, ia berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” (Keluaran 33:16) Dalam pengertiannya, Musa sebenarnya sedang berkata bahwa ia dan bangsa Israel tidak akan beranjak sebelum Tuhan beranjak. Seorang pemimpin yang baik pasti tunduk di bawah otoritas pemimpin yang berada di atasnya, selama itu tidak keluar dari kebenaran Firman Tuhan. Dan seorang pemimpin yang bertindak hanya berdasarkan keinginannya sendiri hanya akan membawa dia dan anggota timnya menuju kehancuran.

Leave no man behind!
Ada suatu perilaku yang sangat menarik dari para penguin kecil. Ketika mereka mendarat di pantai dan kemudian ada beberapa penguin yang terseret arus ombak di pantai, beberapa anggota rombongan yang ada langsung dengan spontan terjun kembali ke laut dan berusaha menarik penguin-penguin yang terseret arus tersebut. Suatu kerjasama yang bagus!
Seorang pemimpin yang baik, ia harus menyadari bahwa ia tidak bergerak sendirian, tetapi ia bergerak bersama-sama dengan tim yang ada. Jabatan seorang pemimpin bukan berbicara tentang derajat, tetapi tentang kepercayaan dan fungsi di dalam sebuah tim. Keutuhan dan kesatuan yang terjaga akan menjadi salah satu faktor penentu yang sangat penting dalam keberhasilan dari sebuah tim. Saat melihat rekannya sedang berjuang menghadapi masalah yang menerpa dia, yang kemudian mengakibatkan dia mulai kehilangan ‘tempat berpijak’, seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang benar pasti akan bertanggung jawab untuk membantu rekan tersebut memecahkan masalahnya – terlepas dari apakah ia adalah pemimpin tim maupun sesama anggota tim.

Pada tahun 1993, saat pasukan Delta Force (pasukan khusus tentara AS) sedang dikirim untuk sebuah misi di Mogadishu, Somalia, mereka terjebak dalam sebuah pertempuran sengit melawan para milisi setempat. Dengan perbandingan jumlah yang sangat tidak seimbang, mereka harus berusaha meloloskan diri dari kepungan tersebut. Pada saat itu, mereka memegang teguh sebuah slogan, “Leave no man behind!” yang berarti mereka tidak ingin membiarkan seorang pun dari tim mereka yang tertinggal, baik itu hidup ataupun mati.
Seringkali dalam kehidupan, masalah dapat sekonyong-konyong datang, bahkan tanpa diminta. Dan masalah ibarat ‘ombak’ yang dapat menyeret seseorang keluar dari prinsip kita. Dan saat itu terjadi, maka seorang anggota tim yang baik pasti akan justru mendukung sekuat tenaga agar rekan tersebut dapat keluar dari masalahnya sembari tetap berpegang teguh pada prinsipnya.

Mengapa Tuhan seringkali mengajak kita untuk belajar dari perilaku binatang? Karena Dia tahu bahwa manusia adalah ciptaan-Nya yang paling mulia, sehingga manusia pun sebenarnya bisa berperilaku lebih baik daripada semua ciptaan-Nya yang lain. Pilihan dikembalikan kepada kita, bagaimanakah perilaku kita sebagai seorang anak Tuhan, yang notabene merupakan gambar dan rupa Allah sendiri.

Siapa pun kita, di mana pun kita berada, kapan pun itu, tidak dapat diragukan lagi bahwa kita harus membangkitkan jiwa kepemimpinan yang ada di dalam kita. Hal ini adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kepemimpinan yang baik bukan dilahirkan, tetapi dibentuk. Mungkin ada orang-orang yang memiliki bakat memimpin semenjak lahirnya, tetapi ia tidak akan menjadi seorang pemimpin sejati bila ia tidak mau dibentuk. Dan pembentukan yang terbaik adalah saat seorang pemimpin membiarkan dirinya dibentuk oleh Firman Tuhan dan membiarkan Yesus menjadi Pemimpinnya yang sejati.

RESPONSIBILITY

Mat 22:37-40 – Jawab YESUS kepadanya:”Kasihilah TUHAN, ALLAHmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Kita seringkali mendengar tentang tanggung jawab dalam kehidupan kita. Tetapi apa sebenarnya tanggung jawab itu? Tanggung jawab dapat diartikan sebagai konsistensi kita untuk menjalani suiatu komitmen. Maka dari itu tanggung jawab dan komitmen merupakan dua hal yang tidak terpisahkan. Dan seiring bertambahnya usia kita, semakin besar pula tanggung jawab kita dalam kehidupan. Tetapi bila kita bertanya lebih lanjut, pada apakah kita bertanggung jawab? Sebagai anak-2 TUHAN yang telah diselamatkan, dengan sendirinya kita sudah mengikatkan diri kita pada hukum ALLAH. Dan ayat pembuka di atas telah menjelaskan apa yang menjadi dasar dari semua hukum ALLAH. Mengapa? Tanggung jawab yang benar tidak dapat dipisahkan dari rasa cinta. Orang yang mencintai orang lain, dengan sendirinya pasti akan berusaha untuk hidup dengan penuh tanggung jawab.

Untuk menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab dalam hidup kita, secara garis besar kita dapat menguraikan tanggung jawab menjadi 3 bagian:

Tanggung jawab kepada ALLAH
Hukum yang terutama mengajarkan untuk kita mengasihi TUHAN dengan segenap apa yang ada dalam hidup kita. Dengan demikian tanggung jawab kita kepada TUHAN harus menjadi prioritas utama kita dalam menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab. Apapun yang kita lakukan, ingatlah bahwa di balik semuanya itu sebagai orang Kristen kita memiliki sebuah pertanyaan besar, yaitu: “Apakah kita membawa kemuliaan bagi nama TUHAN?” Kita harus melakukan yang terbaik, bukan untuk kita, tetapi untuk TUHAN (Kol 3:23)

Tanggung jawab kepada diri kita sendiri
Hukum yang kedua mengajarkan untuk mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Dengan kata lain, bila kita coba telaah lebih dalam, hukum ini mengajarkan kita untuk belajar mengasihi diri kita sendiri lebih dulu, barulah kita bisa mengasihi orang lain. Mengasihi diri kita sendiri bukan berarti kita harus jadi pribadi yang egois, juga berbeda dengan mengasihani diri kita. Orang yang mengasihi dirinya sendiri pasti memiliki pandangan yang benar tentang identitas dirinya sendiri, yaitu bahwa hidup yang dimilikinya saat ini adalah sebuah kepercayaan dari TUHAN, dan ia bertanggung jawab untuk menjaga kepercayaan itu. Kita ingat pada perumpamaan tentang talenta, orang yang mengasihi dirinya sendiri mempunyai tanggung jawab bukan hanya untuk menjaga kepercayaan, tetapi juga mengembangkan kepercayaan yang diberikan oleh TUHAN. Orang yang mengasihi dirinya sendiri pasti menjaga hidupnya dengan baik, baik roh, jiwa maupun tubuhnya. (I Tes 5:23)

Tanggung jawab kepada orang lain
Setelah kita belajar mengasihi diri kita sendiri, kita pun memiliki sebuah tolok ukur untuk bagaimana kita bisa mengasihi orang lain. Bila berbicara tentang tanggung jawab kepada orang lain, kita pun berbicara tentang bisa memberikan yang terbaik untuk orang lain, sambil kita juga menjaga diri kita sendiri. Tanggung jawab kita yang terbesar kepada orang lain adalah untuk menjadi terang bagi kehidupan mereka. Firman TUHAN mengajarkan kita untuk menjadi teladan, bukan hanya kepada orang-2 yang belum mengenal TUHAN, tetapi justru bagi sesama orang percaya (I Tim 4:12), itulah bentuk tanggung jawab kita kepada orang lain, dalam pengertian sesama orang percaya. Tetapi secara umum, kita memiliki tanggung jawab untuk memancarkan terang KRISTUS kepada seluruh dunia, dan semua orang. (Mat 5:16)

Menjadi orang yang bertanggung jawab bukanlah hal yang dapat diperoleh secara instan. Ada proses-proses yang harus kita lalui untuk menjadi orang yang bertanggung jawab. Tetapi suatu tanggung jawab yang benar pasti dimulai dari kesetiaan kita untuk menjalankan tanggung jawab kita dalam perkara-perkara yang sepertinya sepele. Tetapi Firman TUHAN sendiri mengajarkan kita untuk kita harus setia di dalam perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum kita dipercayakan perkara-perkara yang besar. Dan ingatlah janji TUHAN, bahwa bila kita didapatiNYA bertanggung jawab, maka kita pun akan mendapat kehormatan untuk menikmati kebahagiaan bersama TUAN kita. (Mat 25:21)

LOSING A VISION

Shalom…

Another sharing from me. When GOD put this in my heart, I realised that this has been a problem for many Christians these days, and many of us may feel there’s nothing happening. Tapi ini benar-2 masalah yang sangat rawan, dan dapat terjadi pada setiap dari kita kapan aja.

Read Luke 4:18-19, especially on verse 19 (in English is verse 18) “...recovering of sight to the blind...” (KJV). Realise something ??? Of all the types of handicap, why did JESUS say specifically about blindness ??? YESUS adalah pribadi yang memiliki visi yang melintasi zaman. Dan YESUS mengerti dengan baik bahwa ada suatu masa di mana orang-2 dapat menjadi buta, not just physically, but also spiritually. Kebutaan dapat juga dijelaskan sebagai ‘kehilangan daya pandang’, atau ‘kehilangan visi’.

Sejarah mencatat bahwa masa-2 ini sudah beberapa kali terjadi. Pada masa sekitar abad pertengahan, terjadi suatu kondisi yang disebut sebagai ‘The Dark Age’, di mana terjadi penyimpangan-2 standard Firman TUHAN, sekaligus pembunuhan terhadap orang-2 Kristen yang taat. Mereka yang tidak tunduk kepada ‘gereja’ dianggap sebagai penghujat dan their reward is execution. Di dalam Firman TUHAN pun sempat terjadi sebuah zaman kegelapan, yaitu pada waktu peralihan dari Perjanjian Lama ke Perjanjian Baru, dari Kitab Maleakhi ke Kitab Matius. Pada masa itu sempat terjadi masa di mana TUHAN tidak berbicara kepada manusia selama beberapa ratus tahun. Perlu kita ketahui bahwa zaman-2 kegelapan ini ngga cuman terjadi sekali aja. Tapi satu hal yang ingin aku tekankan di sini, bahwa saat dunia ini mulai memasuki era kegelapan, di situ nanti akan muncul anak-2 TUHAN yang akan menjadi pencetak sejarah, sekaligus juga penggoncang bangsa. Sebut aja Martin Luther King, Marie Woodworth-Etter, John Wesley, etc.

Yang aku liat di zaman sekarang ini, ialah bahwa dunia sekali lagi memasuki ‘zaman kegelapan’. Mungkin zaman kegelapan yang ada bukan seperti zaman-2 kegelapan sebelumnya, tapi sekarang ini banyak sekali anak-2 TUHAN di dunia ini yang mulai kehilangan tujuan hidupnya. Mereka mulai kehilangan apa yang menjadi visi dalam kehidupan pribadinya, or worse, they DON’T EVEN HAVE any vision in their lives. It’s a sad fact, I know, but it happens these days. How many times we heard about our generation being spoken as ‘the fatherless generation’ ???

I found out that there are at least 3 reasons that cause a person to lose his vision:

A lukewarm condition (Revelation 3:15-18)
Penekananku di sini adalah di ayat 17: “...and do not know that you are wretched, miserable, poor, BLIND, and naked...” Once again, GOD spoke about blindness. Berarti kondisi yang suam-2 kuku dapat membuat kita menjadi orang yang kehilangan visi. Are we sitting too long on ‘a comfortable chair’ in our lives ??? Apakah kehidupan rohanimu sudah mulai menjadi ‘biasa-2’ aja ??? Perlu diingat, bahwa jemaat di Sardis (Revelation 3:1-3) ditegur karena mereka ‘mencemarkan pakaiannya’ and they failed to live in holiness. Tapi kalo kita liat dari bahasa aslinya, frase yang dipakai berarti ‘menjadi biasa’. Dengan kata lain, pada saat hidup kita ‘menjadi biasa-2 aja’, kita sudah melanggar standard kekudusan ALLAH.

But how are we going to solve it ??? Revelation 3:18 already gave us the solution: “…and anouint your eyes with eye salve, that you may see.” TUHAN menyuruh kita untuk ‘melumas mata kita dengan minyak’. Minyak dalam Firman TUHAN selalu berbicara tentang urapan. Always remember that GOD’s anointing break any yoke in our lives. See Isaiah 10:27 (read the English version, it’s clearer): It shall come to pass in that day, that his burden will be taken away from your shoulder, and his yoke from your neck, and the yoke will be destroyed because of the anointing oil. And blindness is one of the yoke that must be broken, no matter what. So, always remember to ask for new anointing every day, that we’re always free from any bondage in our lives.

When you come to HIS presence, do you always come with great expectation ??? If you don’t, then you better be. This is why we may fall into a lukewarm condition. We forgot to acknowledge that HE is the GOD who does things that we never see, hear, or think. All my life, some of you may have known that I’m very inspired by Steven Curtis Chapman’s song “The Great Adventure”. I consider my Christianity life as a great adventure, heading ahead to the glorious unknown. And you know what, I found out that my Christianity life is very exciting !!! GOD always comes up with new things in my life. New experiences, new revelations, new visions, new understandings, etc. So guys, remember to come to HIS presence with great expectation, ask for new anointing, and break free from your lukewarm condition !!!

Spiritual weariness caused by ‘neverending storms’ (Isaiah 40:30)
Although there is no word ‘blind’ spoken here, but we can see that there has been a losing of sight occurring here. Why ??? Orang yang jatuh tersandung pasti diakibatkan oleh ketidakperhatiannya terhadap setiap langkah yang diambilnya, dan kondisi kelelahan dapat mengakibatkan pandangan seseorang menjadi kabur.

Lalu kenapa orang bisa menjadi lelah ??? Ada banyak kondisi yang dapat menjadi pemicu kelelahan, tapi di sini aku cuman mau tekanin pada satu penyebab, yaitu badai yang datang bertubi-2 dalam kehidupan kita. Kita liat kasus Ayub (Job 16:7), di mana Ayub berkeluh kesah kepada ALLAH mengenai masalah yang tidak berhenti-2 di dalam hidupnya. Suatu kondisi kelelahan rohani dapat berdampak pada banyak hal, seperti ketidakstabilan kontrol emosi, kehilangan semangat untuk mencapai tujuan, etc. Jadi kita bisa liat betapa berbahayanya spiritual weariness ini.

Bagaimana kita dapat mengatasi kelelahan spiritual ini ??? Jawabannya ada di Isaiah 40:31 – But those who wait on the LORD shall renew their strength; They shall mount up with wings like eagles, they shall run and not be weary, they shall walk and not faint. I believe that all of us understand that ‘patience is a virtue’ and GOD’s timing is the best for our lives. Yet, how many of us really put that into practice ??? Berapa banyak dari kita yang memilih untuk cepat-2 keluar dari proses itu ??? Inget apa yang aku sampaikan di last sharing about patiently walking in the path of GOD’s process ???

Seekor rajawali yang bulu-2nya sudah mulai mengalami kerapuhan, harus mengalami proses di mana dia harus memukul-2kan sayapnya ke batu karang untuk merontokkan bulu-2nya. Suatu proses yang sangat menyakitkan, I believe !!! And is that enough ??? NO !!! Pada waktu bulu-2 yang baru mulai tumbuh, rajawali itu akan mengalami rasa gatal yang ngga terkira lantaran bulu-2 yang baru mulai menembus lubang-2 kulitnya. Tapi saat rajawali tersebut bertahan dalam ‘penderitaan’nya, bulu-2 baru yang jauh lebih kuat akan tumbuh dan membuat rajawali tersebut bisa naik terbang lebih tinggi lagi, mengatasi badai-2 yang lebih kuat lagi dalam hidupnya. Wait patiently upon the LORD. Don’t move until HE tells you to move, and you shall see how great HE is when HE restores your wings.

False motivation (Matthew 23)
Penyebab ketiga adalah motivasi yang salah dalam mengikut TUHAN. Kalo kita lihat di perikop di mana YESUS mengecam para orang Farisi dan ahli-2 Taurat, DIA sedikitnya menyebutkan 5 kali kata ‘orang-2 / pemimpin-2 buta). Ini adalah teguran yang sangat keras terhadap semua anak-2 TUHAN, khususnya para pelayan TUHAN. Orang-2 yang melayani TUHAN dengan motivasi yang salah dalam hidupnya akan berakibat pada kebutaan rohani. Banyak sekali anak-2 TUHAN di dunia ini yang melayani dengan motivasi yang salah. Mungkin ada yang melayani dengan motivasi supaya jadi terkenal, atau mungkin juga ada yang untuk mencari jodoh, atau banyak alasan yang lain. Tanpa disadari, mungkin kita juga bisa mengalami motivasi yang salah dalam melayani TUHAN, yaitu pada saat kita melayani TUHAN supaya kita diberkati dalam hidup kita. Ngga sepenuhnya salah memang, tapi pertanyaannya apakah itu yang menjadi motivasi utama dalam hidup kita ??? Kalo iya, then ask HIM to correct our hearts. We come to HIS presence to seek the BLESSER, not merely the blessings. We come to seek the GIVER, not the gifts.

Then how to deal with this false motivation ??? The answer is to keep our humble hearts. GOD loves the humbles (Psalms 149:4 – For the LORD takes pleasure in HIS people; HE will beautify the humble with salvation), and HE longs to see HIS children walk in humility, for there is nothing that we may boast for. What we do, what we have, and what we are, is all by HIS grace. Jangan pernah ambil sedikitpun credit dari pujian yang diberikan kepadamu. YESUS sendiri mengajarkan melalui Firman-NYA, bahwa saat kita selesai melayani TUHAN, kita harus tetap menyatakan bahwa kita hanyalah hamba-2 yang melakukan apa yang diperintahkan oleh TUANnya (Luke 17:10). We are nothing without HIM. Always remember that !!!

False motivation may also mean that we have broken our altars of offerings, dan dengan sendirinya ini juga berbicara tentang rusaknya bait ALLAH secara keseluruhan. In that case, we need to rebuild our temple. Saat Elijah melakukan pertandingan dengan para nabi Baal, dan tiba gilirannya untuk mempersembahkan korban kepada YHWH, apa yang dilakukan Elijah pertama kali ??? Dia membangun kembali altar yang sudah rusak. Dan apa yang terjadi setelah itu ??? TUHAN berkenan kepada persembahan Elijah, dan api turun dari langit dan menghanguskan semua bagian korban persembahan itu tanpa sisa, bahkan sampai air yang menggenangi pun menjadi kering seketika. Begitu pula pada saat kita mulai membangun kembali bait ALLAH dalam hidup kita, dan memperbaiki mezbah-2 kehidupan yang sudah rusak, maka urapan TUHAN akan turun mengali seperti sungai yang mengalir (Ezekiel 47). Dan setelah kita mengalami pemulihan, maka akan tiba waktunya kita menjadi pemulih bagi orang-2 di sekitar kita, sama seperti sungai yang mengalir dari bait ALLAH yang membuat tanah di sekitarnya menjadi subur dan penuh dengan kehidupan. This is what we should be !!! To become the restorers, not just the restored; to become the answers, not just the answered; to become blessings, not just the blessed.

I don’t know about you guys, but to my concern, I won’t stand still until this fatherless generation is called as ‘the fathered generation’. It’s never an easy task to become ‘fathers’ to this generation, but as long as we’re willing to be fully-used by GOD, we will then realise that HE is the one GOD who always strengthens us. I remember a sentence quoted by one of my ‘fathers’, that our greatest ability is our availability. When GOD calls you, are u gonna stand still and say, “LORD, I’m not ready yet.” or will you say, “Here I am LORD, send me.” ??? Looks like a simple decision, doesn’t it ??? But when we are faced with the real condition, it may mean surrendering our whole lives to HIM, and I tell you, IT’S HARDER THAN YOU THOUGHT !!!

If you understand that HE has called each one of you for a Divine plan in your lives, then you will know that this is the time and this is the hour !!! Let GOD’s glory shine upon you and “that you may become blameless and harmless, children of GOD without fault in the midst of a crooked and perverse generation, among whom you shine as lights (or stars) in the world (Philippians 2:15).”

JBU all.

(written for personal network)

CHARACTER BUILDING

Beberapa waktu terakhir ini, TUHAN banyak ajar aku untuk berproses dengan diriku sendiri. Semenjak aku tau bahwa level penyembahanku dinaikkan lagi ama TUHAN, semenjak itu pula aku semakin diajar untuk terus menjaga integritas kekristenanku. One of my best friends reminded me that the higher you climb, the stronger the windblow is. Semakin engkau dibawa masuk lebih dalam ke sungai TUHAN, semakin besar tekanan yang akan engkau alami. Tapi bila engkau meresponinya dengan baik, tekanan itu akan membuat dirimu semakin ‘berkurang’, tapi justru engkau akan semakin ‘melebar’. Dalam arti kata bahwa semakin egomu akan ditekan, tapi kapasitas kekristenanmu akan semakin diperluas.

Tapi bagaimana kita bisa menanggapi proses TUHAN dalam hidup kita itu ??? Ada beberapa hal yang perlu kita ingat dalam pembentukan karakter kekristenan kita:

1. Proverbs 27:17 – As iron sharpens iron, so a man sharpens the countenance of his friend.
YESUS dengan sangat gamblang mengajarkan bahwa pembentukan karakter kita sangat dipengaruhi oleh orang-2 yang hidup bersama kita. Some Christians might think that they don’t need anyone else to work with them, dengan kata lain cukuplah mereka menjadi seorang single fighter. Dan alasannya pun cukup klise: “Daripada nanti aku dikecewakan oleh mereka, lebih baik aku kerjakan semua sendiri.” Tapi pemahaman itu SALAH BESAR !!! TUHAN ngga pernah mengajarkan kita untuk hidup sendirian dengan alasan takut dikecewakan. Siapakah orang yang telah mengkhianati YESUS ??? Ya, anak sekolah minggu pun tau bahwa orang itu namanya Yudas. Tapi siapa sebenarnya Yudas itu ??? Dia ngga lain dan ngga bukan adalah murid YESUS sendiri, yang notabene sudah 3 tahun lebih hidup bersama-2 dengan YESUS. Yang lebih menyakitkan lagi, ternyata kebenaran menuliskan bahwa yang mengkhianati YESUS bukan hanya Yudas, tapi ke-11 murid yang lain pun ikut ambil bagian dalam rencana ‘pengkhianatan’ itu, implicitly. Apa yang dilakukan Petrus saat YESUS disiksa ??? Dia menyangkali GURUnya, bahkan sampai berani bersumpah. Lalu bagaimana dengan murid-2 yang lain ??? Mereka semuanya mungkin ada di tempat kejadian itu, tapi apakah ada dari mereka yang secara terang-2an menyatakan bahwa mereka murid YESUS ??? NOBODY !!!

YESUS mengajarkan bahwa orang-2 di sekitar kita itu ada untuk membantu kita berproses menjadi pribadi yang memiliki karakter semakin baik. Kita akan ‘diasah’ untuk menjadi anak panah yang semakin runcing, yang sanggup untuk menembus perisai sekokoh apa pun. Pada saat peristiwa penyaliban YESUS bisa saja memaku diriNYA sendiri, seandainya tidak ada orang yang mau melakukannya. DIA bisa dengan leluasa memaku kakiNYA sendiri, menancapkan mahkota berduri di atas kepalaNYA sendiri, bahkan sampai pada waktu DIA harus menancapkan paku ke salah satu tanganNYA, DIA pun mampu. Tapi pada saat hanya tinggal satu tangan yang belum dipaku, siapa yang akan memakunya ??? Di sinilah YESUS mengajarkan fungsi sesama dalam proses penyaliban diri kita. Bukan suatu hal yang mudah, memang. Tapi bila kita bisa lewati proses ini dengan baik, sekali lagi aku katakan, kita akan semakin menjadi sebilah anak panah yang tajam, ready to penetrate every barrier in our lives.

2. Psalms 25:9 – The humble HE guides in justice, and the humble HE teaches HIS way
A few weeks ago, I learned about ‘exercising our spirit’, and salah satu caranya adalah ‘instant repentance’. Saat TUHAN tegur engkau, gimana respon hatimu ??? Apakah engkau akan menjadi seperti Daud, yang langsung tersungkur saat menerima teguran TUHAN, ataukah engkau akan menjadi seperti Saul, yang berargumen untuk membela dirinya ??? Hasil dari keduanya pun jelas. Daud menjadi orang yang diberkati, bahkan memperoleh kepercayaan dari TUHAN bahwa keturunannya akan menjadi bagian dalam rencana ALLAH untuk menyelamatkan manusia. Sedangkan Saul menjadi orang yang ditolak oleh ALLAH. Kenapa ??? Karena Daud memiliki hati untuk suatu pertobatan seketika. Begitu TUHAN tegur Daud melalui Natan, seketika itu pula Daud langsung menangis dan bertobat secara total.

Daud adalah satu-2nya orang di dalam Alkitab yang disebutkan sebagai ‘a man after GOD’s own heart’. Dan rupanya julukan yang diberikan ALLAH itu bukan asal-2an. Kenapa ??? Daud memiliki kerendahan hati dalam hidupnya. Kalo mau disebutin, terlalu banyak karakter Daud yang menjadi indikator untuk membuktikan bahwa Daud adalah orang yang rendah hati. Dari awal, sebagai anak yang ‘tertolak’ dalam keluarganya, Daud masih punya kasih untuk menyayangi kakak-2nya. Sebagai buktinya, Daud dengan rela hati mau mengantarkan makanan bagi mereka saat mereka berperang melawan Filistin. Kita semua tau bahwa apa yang terjadi kemudian adalah peristiwa Daud membunuh Goliat. Ini tidak akan pernah terjadi kalau Daud adalah orang yang tinggi hati, knowing that he would become a great king someday. Selanjutnya, semakin Daud beranjak dewasa, Daud semakin menjadi orang yang mengasihi TUHAN lebih dari segala sesuatu. Dia menjadi raja, sesuai janji TUHAN ke atasnya, tetapi dia tetap menjadi seorang raja yang rendah hati. Dia tetap menghargai keluarga Saul dan menganggapnya sebagai anggota keluarganya sendiri, terbukti dari peristiwa Mephibhoseth (II Samuel 9:1-13). Daud tetap menyadari bahwa kedudukan yang dia peroleh semuanya semata-2 karena kebaikan TUHAN.

Ya, kita bisa aja terbuka untuk sebuah teguran yang datang dari pemimpin di atas kita. Tapi gimana kalo teguran itu datang dari orang-2 yang ‘berkedudukan’ di bawah kita ??? Apa kita masih bisa terbuka untuk teguran itu ??? Dan lebih lagi, apakah kita mau benar-2 belajar untuk berubah sesuai dengan teguran itu ??? Ya, kita tau bahwa ngga semua masukan tentang diri kita itu pasti benar. Manusia tetaplah manusia, masih punya ketidaksempurnaan dalam hidupnya. Tapi apa respon hati kita saat kita menghadapi teguran itu ??? Apakah kita langsung menentang dan ‘membangun tembok’ untuk melindungi diri kita ??? Ataukah kita mau berdiam diri dan introspeksi ??? Daud bisa saja dia merasa gengsi dan direndahkan martabatnya, kemudian menghukum mati Natan karena telah mempermalukan dia di depan pegawai-2 istananya. Tapi Daud memilih untuk bertobat, sehingga kasih karunia ALLAH pun semakin dicurahkan kepadanya. Apakah kita mau memiliki roh yang luar biasa ??? Belajarlah untuk memiliki ‘instant repentance’ !!!

3. Hebrews 5:8 – Though HE was a SON, yet HE learned obedience by the things which HE suffered
Another friend of mine once gave a statement, which becomes a rhema for me all my life. Dia berkata bahwa saat kita sedang menjalani suatu proses dari TUHAN, jangan sekali-2 minta untuk cepat-2 keluar dari proses itu. Ibaratnya seperti buah mangga yang sedang menuju proses kematangan, ada orang yang mungkin memilih untuk memetik mangga ini supaya tidak matang di pohon, tetapi matang di tempat penyimpanan alias karbitan, dengan alasan supaya menghindari resiko-2 yang ada (dimakan kelelawar, busuk karena ulat, jamuran, dsb.). Tapi kita harus ingat bahwa buah mangga yang masak pohon itu rasanya jauh lebih enak dibandingkan buah mangga yang masak karbitan.

In one of my sermons, I said that a life of obedience is more enjoyable than a life of personal desires. Hari-2 ini aku sedang belajar untuk mulai berani mempercayakan seluruh hidupku di dalam tangan TUHAN, sepenuhnya. What I mean is, I’m struggling to fight my fearful mind, being afraid of tomorrow. It’s not an easy task to trust GOD 100% in what you do, especially when it is concerned with your future. But I also learned, that HIS plan never fails on my life. What I must do is to walk straight in HIS path. The path may be narrow and small, but as long as I walk carefully according to HIS guidance, I’m sure that I will make it. Not by my power, not by my might, but by the SPIRIT of GOD.

Ketaatan juga bisa berbicara tentang keberanian kita untuk menyerahkan ‘Ishak-2’ dalam hidup kita. Ishak berbicara mengenai harta kepunyaan. It could be anyone or anything. Ini bisa berbicara tentang mimpi-2 kita, cita-2 kita, keluarga kita, harta benda kita, pasangan hidup kita, etc, etc, etc. Anything !!! Tapi belajarlah dari Abraham, yang ngga ragu dalam mempercayai TUHAN. Ketahuilah, bahwa TUHAN meminta Ishak-2 dalam kehidupan kita dengan tujuan yang mulia. Saat kita menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan TUHAN, dan kita berjalan dengan kesetiaan, yang akan kita terima adalah segala sesuatu yang terbaik yang sudah disiapkan TUHAN bagi kehidupan kita.

4. Hebrews 13:17a – Obey those who rule over you, and be submissive, for they watch out for your souls, as those who must give account.
Banyak orang-2 Kristen di dunia ini tidak menyadari tentang pentingnya penundukan diri terhadap pemimpin-2 yang berada di atas kita. Beberapa mungkin berkata, “Pemimpinku hanya satu, yaitu TUHAN YESUS KRISTUS!” Ada yang juga bahkan berkata, “Untuk apa aku tunduk terhadap pemimpinku, kalau pemimpinku pun tidak menjadi contoh?” Tapi coba kita renungkan lagi, coba kita berpikir kembali… Apa Firman TUHAN berkata “Taatilah pemimpin-2mu dan tunduklah kepada mereka, KALAU MEREKA BAIK TERHADAPMU” ??? NO !!! Hanya ada satu kondisi di mana kita tidak boleh menuruti pemimpin kita, yaitu bila apa yang diperintahkannya berlawanan dengan kebenaran. Contohnya seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menolak pada saat diperintahkan untuk menyembah patung Nebukadnezar; karena mereka menyadari bahwa Firman TUHAN jelas memerintahkan untuk tidak menyembah kepada allah-2 lain.

Tapi terlebih dari itu, YESUS ngga pernah mengajarkan untuk kita tidak tunduk pada pemimpin-2 kita. YESUS bahkan mengajarkan untuk kita pun mentaati apa yang diajarkan para orang-2 Farisi, yang notabene adalah ‘musuh-2’ YESUS, walaupun toh DIA tetap mengajarkan untuk tidak mencontoh perbuatan para orang Farisi yang menunjukkan kemunafikan mereka tersebut. Dalam konteks ini, YESUS secara gamblang menunjukkan bahwa DIA pun menghormati orang-2 Farisi sebagai pemimpin-2 dalam adat istiadatNYA, dan DIA pun sadar bahwa Firman TUHAN tetaplah Firman TUHAN, ngga perduli mo dengan cara apa Firman itu disampaikan. Kebenaran tetaplah kebenaran, dan saat kebenaran itu disampaikan, kita sebagai anak-2 terang haruslah mentaati kebenaran itu.

Kita liat lagi kehidupan Daud. Daud adalah orang yang semenjak usia remajanya sudah ditentukan untuk menjadi raja. Walaupun semenjak usia muda Daud sudah diurapi sebagai seorang raja menggantikan Saul yang sudah ditolak oleh ALLAH, tapi Daud tidak semena-2 mempergunakan urapan tersebut untuk melakukan kudeta terhadap Saul. Bahkan Daud pun pernah dengan lantang menyatakan: “Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganmu dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku: Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN” (I Samuel 24:11). Pernyataan Daud yang seperti inilah yang benar-2 menunjukkan betapa Daud adalah orang yang sangat menghargai otoritas pemimpin di atasnya sebagai figur yang harus dihormati, dan terlebih lagi, sebagai figur yang diurapi ALLAH untuk memimpin dia, seburuk apapun reputasi Saul. Bahkan, Daud pun seringkali memanggil Saul dengan sebutan ‘ayah’. Ini sangat menunjukkan betapa Daud begitu menyayangi Saul sebagai seorang bapa dalam hidupnya, walaupun toh bapanya itu selalu berusaha untuk membunuhnya.

Apa yang bisa membuat seorang leader dapat bertumbuh ??? Ya, memang hubungan intim dengan TUHAN akan sangat membuat seorang leader bertumbuh dengan baik. Tapi itu bukan satu-2nya pemicu pertumbuhan seorang leader. Seringkali kita melupakan satu hal yang diperlukan oleh seorang leader untuk dapat bertumbuh, yaitu sikap supportive dari orang-2 yang dipimpinnya. Mungkin kita seringkali mendengar ‘berita-2 miring’ tentang leader-2 kita, yang notabene belum tentu sepenuhnya benar. Tapi pada saat kita mendengar berita itu, apa yang akan kita lakukan ??? Apakah kita akan langsung terima berita itu mentah-2, dan kemudian dengan bebasnya menghakimi dia ??? Kalo itu yang kita lakukan, remember that “with what judgment you judge, you will be judged; and with the measure you use, it will be measured back to you” (Matthew 7:2). Sekali lagi, semua kembali ke respon hati kita terhadap suara TUHAN. Kalo kita tau DENGAN PASTI (bukan emosi semata) bahwa TUHAN suruh kita tegur dia, maka tegurlah dengan kasih dan tidak mengurangi rasa hormat. Tapi kalo TUHAN ngga suruh kita tegur, ya diamlah! Doakan dia. Biarpun berita yang kita dengar itu merupakan fakta, tapi bukan itu yang diinginkan TUHAN. Apa yang diinginkan TUHAN dari kita adalah bagaimana kita meresponi suatu permasalahan dengan cara TUHAN, bukan cara manusia. Always remember that, how we treat our leaders today will reflect how we will be treated by the ones we lead in the future. If we respect our leaders today, then we will also gain respect by the ones we lead someday.

So guys, saddle up your horses, raise up the sails, and get ready to venture the glorious unknown of GOD’s mistery. Don’t be afraid of what lies ahead, since HE has promised us that HE will make all things beautiful in its time. More than that, HE has also promised that HE will never leave us, nor forsake us. So, why should we linger any further ??? Let GOD deal with your life, and let HIM make the best out of our vessels.

Jbu all...

(written for personal network)