Tetapi ada beberapa perilaku yang unik dari penguin-penguin kecil ini. Dan mungkin justru kita dapat belajar banyak dari perilaku mereka, khususnya dalam hal kepemimpinan. Seringkali, saat kita berbicara tentang kepemimpinan, kita mengacu pada perilaku burung rajawali, tetapi sebenarnya ada banyak perilaku binatang di dalam Alkitab yang Tuhan pakai untuk mengajar kita dalam banyak hal, contohnya perilaku semut di dalam Amsal 30:24. Ternyata di dalam kehidupan nyata, ada banyak sekali nilai-2 yang dapat kita pelajari dari berbagai jenis ciptaan Tuhan. Demikian pula dengan penguin-penguin ini, ada suatu nilai yang berharga yang dapat kita lihat dari perilaku mereka. Mari kita coba lihat apa saja yang dapat kita pelajari dari perilaku penguin-penguin kecil ini, khususnya dalam hal kepemimpinan.
Know where you are heading to
Penguin adalah binatang koloni, yang artinya mereka hidup secara berkelompok. Dan dari sekian ratus penguin yang ada, mereka terbagi dalam kelompok-kelompok kecil yang berisikan kurang lebih sekitar 20 penguin. Setiap pagi, para penguin dewasa beranjak ke laut untuk berburu makanannya, dan saat hari menjelang malam mereka kembali ke pantai, untuk masuk kembali ke gua yang menjadi sarang mereka dan merawat anak-2 mereka. Uniknya, saat mereka kembali ke pantai, seakan-akan ada anchor points atau ‘titik pendaratan’ untuk masing-masing koloni kecil. Ada sekitar 4 area yang menjadi titik pendaratan mereka, dan tidak ada satupun koloni yang meleset dari 4 titik tersebut. Sebagai seorang pemimpin, kita bisa belajar bahwa kita tidak akan bisa melangkah dengan baik bila kita tidak tahu ke mana kita akan melangkah. Jangankan untuk memimpin orang lain, kita pun tidak akan bisa memimpin diri kita sendiri bila kita tidak memiliki tujuan dalam perjalanan hidup kita. Langkah paling awal, dan yang justru akan menjadi awal penentu keberhasilan dari seorang pemimpin adalah mengerti ke mana kita akan berjalan.
Joan of Arc, seorang pejuang wanita Perancis, ia mengerti bahwa Perancis tidaklah seharusnya berada di bawah jajahan Inggris, dan ia menjadi seorang pemimpin yang disegani, walaupun ia adalah seorang wanita muda. Meskipun ia gugur pada usia yang sangat muda, tetapi apa yang dilakukannya telah menjadi langkah awal perjuangan Perancis, dan namanya tetap menjadi bagian dalam sejarah Perancis.
Being a leader means patience
Di setiap koloni kecil yang ada, para penguin tersebut selalu memiliki pemimpin rombongan. Dan sebelum semua anggota koloni tersebut terkumpul semua, pemimpin rombongan tidak akan beranjak. Sampai pada sekian waktu, ketika anggota rombongan yang tersisa tidak kembali, barulah pemimpin rombongan mengajak rombongannya berangkat, karena dapat dipastikan bahwa penguin anggotanya hilang di tengah lautan. Dari hal ini kita belajar bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, kita harus memiliki kesabaran ekstra. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang kita pimpin belum tentu mereka bisa bekerja sesuai dengan apa yang kita inginkan, tetapi itu pun bukan berarti bahwa mereka bekerja lebih buruk. Mungkin saja mereka memiliki pandangan yang berbeda dengan kita, dan itu adalah hal yang sangat wajar dalam sebuah tim. Mungkin mereka tidak bekerja secepat yang kita inginkan, tetapi bukan berarti kinerja mereka seburuk yang kita kira. Bahkan seringkali orang yang bisa bekerja dengan cepat pun sangat rawan dengan adanya kesalahan. Sebagai seorang pemimpin kita harus memiliki kesabaran untuk kita bisa memahami pola pikir orang-orang yang kita pimpin, dan mengarahkan mereka untuk bekerja dengan efisien. Bekerja dengan efisien tidak harus berarti bekerja dengan cepat semata-mata, tetapi itu merupakan kombinasi yang seimbang dari kecermatan, kecepatan dan kerja keras. Pahami karakter orang-orang yang kita pimpin, agar kita bisa memimpin mereka dengan strategi yang tepat.
Submission means not moving selfishly
Pada saat berada di pantai dan menunggu semua anggota koloni berkumpul, tidak ada satu pun penguin anggota yang beranjak sebelum pemimpin memulai bergerak. Begitu pemimpin koloni bergerak, barulah semua anggota yang lain ikut bergerak. Di sini kita belajar bahwa seorang pemimpin yang baik mengerti bahwa ia pun harus tunduk di bawah kepemimpinan yang berada di atasnya. Perlu diingat bahwa dalam hal ini tunduk di bawah otoritas sebuah kepemimpinan bukan berarti tidak memiliki inisiatif. Tetapi tunduk di bawah otoritas kepemimpinan berarti kita tidak bergerak hanya sesuai dengan kemauan kita semata. Bila kita memiliki ide-ide tertentu, kita harus mengkomunikasikannya dengan pemimpin kita, dan jangan bergerak sendiri sebelum pemimpin kita memutuskan untuk kita bergerak. Contoh yang baik mungkin dapat kita lihat dalam ketentaraan. Pada saat seorang serdadu mengabaikan perintah komandannya dan bertindak tidak sesuai dengan perintah komandannya, hal itu akan dianggap sebagai sebuah pelanggaran dalam kemiliteran.
Mari kita ingat Musa pada saat perjalanan Israel di padang gurun, ia berkata kepada Tuhan, “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.” (Keluaran 33:16) Dalam pengertiannya, Musa sebenarnya sedang berkata bahwa ia dan bangsa Israel tidak akan beranjak sebelum Tuhan beranjak. Seorang pemimpin yang baik pasti tunduk di bawah otoritas pemimpin yang berada di atasnya, selama itu tidak keluar dari kebenaran Firman Tuhan. Dan seorang pemimpin yang bertindak hanya berdasarkan keinginannya sendiri hanya akan membawa dia dan anggota timnya menuju kehancuran.
Leave no man behind!
Ada suatu perilaku yang sangat menarik dari para penguin kecil. Ketika mereka mendarat di pantai dan kemudian ada beberapa penguin yang terseret arus ombak di pantai, beberapa anggota rombongan yang ada langsung dengan spontan terjun kembali ke laut dan berusaha menarik penguin-penguin yang terseret arus tersebut. Suatu kerjasama yang bagus!
Seorang pemimpin yang baik, ia harus menyadari bahwa ia tidak bergerak sendirian, tetapi ia bergerak bersama-sama dengan tim yang ada. Jabatan seorang pemimpin bukan berbicara tentang derajat, tetapi tentang kepercayaan dan fungsi di dalam sebuah tim. Keutuhan dan kesatuan yang terjaga akan menjadi salah satu faktor penentu yang sangat penting dalam keberhasilan dari sebuah tim. Saat melihat rekannya sedang berjuang menghadapi masalah yang menerpa dia, yang kemudian mengakibatkan dia mulai kehilangan ‘tempat berpijak’, seorang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang benar pasti akan bertanggung jawab untuk membantu rekan tersebut memecahkan masalahnya – terlepas dari apakah ia adalah pemimpin tim maupun sesama anggota tim.
Pada tahun 1993, saat pasukan Delta Force (pasukan khusus tentara AS) sedang dikirim untuk sebuah misi di Mogadishu, Somalia, mereka terjebak dalam sebuah pertempuran sengit melawan para milisi setempat. Dengan perbandingan jumlah yang sangat tidak seimbang, mereka harus berusaha meloloskan diri dari kepungan tersebut. Pada saat itu, mereka memegang teguh sebuah slogan, “Leave no man behind!” yang berarti mereka tidak ingin membiarkan seorang pun dari tim mereka yang tertinggal, baik itu hidup ataupun mati.
Seringkali dalam kehidupan, masalah dapat sekonyong-konyong datang, bahkan tanpa diminta. Dan masalah ibarat ‘ombak’ yang dapat menyeret seseorang keluar dari prinsip kita. Dan saat itu terjadi, maka seorang anggota tim yang baik pasti akan justru mendukung sekuat tenaga agar rekan tersebut dapat keluar dari masalahnya sembari tetap berpegang teguh pada prinsipnya.
Mengapa Tuhan seringkali mengajak kita untuk belajar dari perilaku binatang? Karena Dia tahu bahwa manusia adalah ciptaan-Nya yang paling mulia, sehingga manusia pun sebenarnya bisa berperilaku lebih baik daripada semua ciptaan-Nya yang lain. Pilihan dikembalikan kepada kita, bagaimanakah perilaku kita sebagai seorang anak Tuhan, yang notabene merupakan gambar dan rupa Allah sendiri.
Siapa pun kita, di mana pun kita berada, kapan pun itu, tidak dapat diragukan lagi bahwa kita harus membangkitkan jiwa kepemimpinan yang ada di dalam kita. Hal ini adalah sebuah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kepemimpinan yang baik bukan dilahirkan, tetapi dibentuk. Mungkin ada orang-orang yang memiliki bakat memimpin semenjak lahirnya, tetapi ia tidak akan menjadi seorang pemimpin sejati bila ia tidak mau dibentuk. Dan pembentukan yang terbaik adalah saat seorang pemimpin membiarkan dirinya dibentuk oleh Firman Tuhan dan membiarkan Yesus menjadi Pemimpinnya yang sejati.
